Kenaikan Harga CPO di Berau Berdampak Positif dan Negatif
Agus
Wahyudi
POSKOTAKALTIMNEWS.COM,TANJUNG
REDEB-
Dampak kenaikan crude palm oil (CPO) ternyata membawa dampak positif dan
negatif pengaruh bagi daerah, termasuk penyerapan tenaga kerja di perusahaan
sawit yang berada di wilayah Kabupaten Berau.
Harga minyak sawit mentah atau crude
palm oil (CPO) masih bergerak di kisaran tertinggi. Bahkan, dikutip dari
laman cnbc.com, dalam sepekan bulan Maret 2022 ini, harga CPO masih naik 6,87%,
sedangkan secara tahunan berhasil membekukan kenaikan sebesar 62,59%. Faktor
utama yang menunjang kenaikan harga CPO adalah ketegangan geopolitik antara
Rusia dan Ukraina secara material mengganggu pasokan minyak. Ditambah juga
naiknya permintaan dan suplai yang bermasalah.
Asisten 2 Setkab Berau Bidang Pembangunan dan
Perekonomian, Agus Wahyudi mengatakan, imbas kenailan CPO di pasar saham memang
secara langsung tidak ada. Akan tetapi, kenaikan bahan mentah minyak nabati itu
berpengaruh pada multiplayers effect di setiap daerah dengan komoditas
perkebunan sawit yang besar.
Salah satunya adalah Kabupaten Berau yang
menjadi pemasok terbesar kedua CPO dengan lahan komoditas perkebunan sawit yang
luas se-Kalimantan Timur. Menurut Agus, pengaruhnya adalah pada penyerapan
tenaga kerja di bidang perkebunan sawit.
"Kalau di Berau otomatis permintaan
harga sawit atau tandan buah segar (TPS) harganya tinggi juga. Apabila harganya
tinggi, maka petani sawit kita yang diuntungkan," katanya baru baru ini.
"Itu pengaruhnya artinya ada peningkatan
juga untuk pendapatan petani, tapi petani sawitnya saja sedangkan untuk
pendapatan yang lainnya kan tidak, itu pengaruh positif untuk petani sawit
kita," sambungnya.
Selanjutnya, kenaikan harga CPO juga berimbas
untuk mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) dari hasil pajak bumi. Dampak
lainnya, untuk masyarakat yang memiliki lahan perkebunan sawit secara pribadi
bisa menjual kelapa sawitnya ke perusahaan.
"Jadi, secara tidak langsung pengaruhnya
itu ada, kalau secara langsung tidak ada karena tidak ada royalti untuk daerah.
Kebun kelapa saeit di Berau itu sangat besar ini semua bermuara ke pusat untuk
bagi hasilnya," terangnya.
Dirinya juga menjelaskan, komoditas sawit
tidak seperti batubara, dimana pada sektor batubara itu ada royalti yang dibagi
ke daerah dan itu menjadi serapan untuk APBD. Selanjutnya, hasil bagi CPO itu
ada badan pengelolanya sendiri khusus kelapa sawit yang langsung dinaungi oleh
pemerintah pusat dimana nilai triliunan yang didapatkan imbas kenaikan CPO itu,
80 persen hasil keuntungannya disubsidi untuk perkebunan sawit yang memproduksi
biodiesel.
"Makanya, ada permintaan dan ada juga
kritikan dari masyarakat, kalau bisa badan pengelola kelapa sawit itu sebagian
besar justru disubsidi kepada pabrik minyak goreng. Kalau disubsidikan ke
pabrok biodiesel maka yang menikmati adalah orang yang punya mobil,"
pungkasnya.(sep)